Los Angeles- Obama. Begitu mendengar kata itu, pasti yang terbayang adalah Presiden AS saat ini, Barack Obama. Tapi obama tidak selalu nama orang. Sebab kini kata obama telah menjadi salah satu bahasa slang Inggris Amerika.
Edisi keenam UCLA Slang yang dipublikasikan bulan ini, menambah beberapa kosakata baru. Kamus tersebut dirilis setiap empat tahun oleh profesor linguistik Pamela Munro dan mahasiswanya di Universitas California Los Angeles (UCLA). Demikian diberitakan Reuters pada Senin (3/8/2009). analisis detil untuk memastikan
Menurut Munro, kosakata dalam kamus disusun menggunakan proses metodik . Hal itu dimulai dari para mahasiswa yang mengumpulkan kata-kata slang dari teman-temannya dengan diikuti analisis detil untuk memastikan kata tersebut dieja dan didefinisikan dengan tepat.
“Para mahasiswa belajar banyak tentang grammar, bahasa dan linguistik,” kata Munro.
“Anda dapat mempelajari sesuatu yang Anda inginkan tentang bahasa umum melalui media slang,” imbuh perempuan tersebut.
Kamus Bahasa Inggris Slang setebal 160 halaman tersebut berisi istilah, difinisi, bagian ucapan, contoh kalimat, catatan etimologi, dan kata slang baru yang asli. Kata slang baru yang dimasukkan dalam edisi teranyar kamus tersebut antara lain ‘presh’ yang berarti manis (cute) atau berharga (precious).
Kata lainnya adalah ‘fomo’ yang artinya takut kehilangan sesuatu. ‘Schwa’ artinya sama dengan wow. Lantas bila Anda mendengar kalimat “You so obama”, itu berarti “Anda sangat keren”.
Kata slang ‘bromance’ berarti pertemanan yang sangat dekat hingga seperti saudara. ‘Bellig’ artinya mabuk dan berperang. ‘Eargasm’ bermakna ya seperti itulah kedengarannya. Selain kata-kata baru tersebut, disebutkan pula istilah ‘I.D.K’ yang mengindikasikan I didn’t know.
Kamis, 06 Agustus 2009
‘ Si Burung Merak’ Itu pun Pergi….
Waktunya habis dalam 73 tahun. Kini tiada lagi sajak-sajak baru yang memukau khas dirinya. Sebab ‘Si Burung Merak’ itu kini telah pergi dan tidak akan kembali….
Dunia sastra berduka. Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih dikenal sebagai WS Rendra dan populer dengan julukan Si Burung Merak itu pergi. Setelah beberapa waktu terbaring sakit, Rendra meninggal dunia pada Kamis (6/8/2009) pukul 20.48 WIB di RS Mitra Keluarga Depok. Sekitar satu bulan lalu Rendra memulai pengobatan cuci darah karena gagal fungsi ginjal.
Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Rendra merupakan anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Bakat sastranya mulai terlihat saat di bangku SMP. Ketika itu dia mulai menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolah. Tak hanya itu, dia pun mampu menhipnotis penonton tatkala tampil di atas panggung.
Pada 1967, pria bersuara khas ini meninggalkan Indonesia untuk mengambil pendidikan di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sepulangnya dari AS pada 1968, dia membentuk grup teater bernama Bengkel Teater yang kemudian menjadi basis kegiatan seninya.
Rendra menikahi Sunarti Suwandi –perempuan cinta pertamanya– pada 31 Maret 1959. Pernikahan mereka membuahkan lima anak yakni Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Pada 12 Agustus 1970, dia kemudian menikahi putri darah biru Keraton Yogyakarta Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Saat itulah Rendra masuk Islam. Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati adalah empat anak hasil pernikahannya dengan Sitoresmi.
Pesona Si Burung Merak tak pudar meski usianya bertambah. Pesona itu mampu memikat Ken Zuraida yang kemudian menjadi istri ketiga Rendra. Dua anak bernama Isaias Sadewa dan Maryam Supraba melengkapi kebahagiaan mereka. Pada 1979 Rendra menceraikan Sitoresmi. Dua tahun kemudian Sunarti juga diceraikan.
Rendra pernah ditahan oleh pemerintah yang berkuasa ketika tahun 1978 menelorkan karya-karyanya yang berbau protes. Bahkan dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.
Pria berambut gondrong itu juga beberapa kali menulis puisi yang menyerukan kehidupan masyarakat marginal. Sajak-sajaknya ada pula yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Bahkan sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta.
Sederet penghargaan di dunia sastra menegaskan kemampuan dan bakat yang dimiliki Rendra. Penghargaan yang diperoleh dia antara lain Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989) The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006). Beberapa sajak/puisi karya Rendra antara lain: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Sajak Potret Keluarga, Sajak Rajawali Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, State of Emergency, dan Surat Cinta.
Tarian Si Burung Merak kini hanyalah kenangan. Hadirnya yang bagaikan warna-warni cahaya itu kini menjadi bagian sejarah. Selamat jalan Si Burung Merak. Semoga damai di sisi-Nya….
sumber: tokohindonesia.com
wikipedia.com
Dunia sastra berduka. Willibrordus Surendra Broto Rendra yang lebih dikenal sebagai WS Rendra dan populer dengan julukan Si Burung Merak itu pergi. Setelah beberapa waktu terbaring sakit, Rendra meninggal dunia pada Kamis (6/8/2009) pukul 20.48 WIB di RS Mitra Keluarga Depok. Sekitar satu bulan lalu Rendra memulai pengobatan cuci darah karena gagal fungsi ginjal.
Pria yang sempat mengenyam pendidikan di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta ini lahir di Solo, Jawa Tengah, 7 November 1935. Rendra merupakan anak dari pasangan R. Cyprianus Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Bakat sastranya mulai terlihat saat di bangku SMP. Ketika itu dia mulai menulis puisi, cerita pendek dan drama untuk berbagai kegiatan sekolah. Tak hanya itu, dia pun mampu menhipnotis penonton tatkala tampil di atas panggung.
Pada 1967, pria bersuara khas ini meninggalkan Indonesia untuk mengambil pendidikan di American Academy of Dramatical Art, New York, USA. Sepulangnya dari AS pada 1968, dia membentuk grup teater bernama Bengkel Teater yang kemudian menjadi basis kegiatan seninya.
Rendra menikahi Sunarti Suwandi –perempuan cinta pertamanya– pada 31 Maret 1959. Pernikahan mereka membuahkan lima anak yakni Teddy Satya Nugraha, Andreas Wahyu Wahyana, Daniel Seta, Samuel Musa, dan Klara Sinta. Pada 12 Agustus 1970, dia kemudian menikahi putri darah biru Keraton Yogyakarta Bendoro Raden Ayu Sitoresmi Prabuningrat. Saat itulah Rendra masuk Islam. Yonas Salya, Sarah Drupadi, Naomi Srikandi, dan Rachel Saraswati adalah empat anak hasil pernikahannya dengan Sitoresmi.
Pesona Si Burung Merak tak pudar meski usianya bertambah. Pesona itu mampu memikat Ken Zuraida yang kemudian menjadi istri ketiga Rendra. Dua anak bernama Isaias Sadewa dan Maryam Supraba melengkapi kebahagiaan mereka. Pada 1979 Rendra menceraikan Sitoresmi. Dua tahun kemudian Sunarti juga diceraikan.
Rendra pernah ditahan oleh pemerintah yang berkuasa ketika tahun 1978 menelorkan karya-karyanya yang berbau protes. Bahkan dramanya yang terkenal berjudul SEKDA dan Mastodon dan Burung Kondor dilarang untuk dipentaskan di Taman Ismail Marzuki.
Pria berambut gondrong itu juga beberapa kali menulis puisi yang menyerukan kehidupan masyarakat marginal. Sajak-sajaknya ada pula yang sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris seperti Rendra: Ballads and Blues: Poems oleh Oxford University Press pada tahun 1974. Bahkan sajaknya yang berjudul Mencari Bapak, pernah dibacakannya pada Peringatan Hari Ulang Tahun ke 118 Mahatma Gandhi pada tanggal 2 Oktober 1987, di depan para undangan The Gandhi Memorial International School Jakarta.
Sederet penghargaan di dunia sastra menegaskan kemampuan dan bakat yang dimiliki Rendra. Penghargaan yang diperoleh dia antara lain Anugerah Seni dari Pemerintah Republik Indonesia (1970), Hadiah Akademi Jakarta (1975), Hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1976), Penghargaan Adam Malik (1989) The S.E.A. Write Award (1996), dan Penghargaan Achmad Bakri (2006). Beberapa sajak/puisi karya Rendra antara lain: Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta, Blues untuk Bonnie, Empat Kumpulan Sajak, Jangan Takut Ibu, Mencari Bapak, Nyanyian Angsa, Pamphleten van een Dichter, Perjuangan Suku Naga, Pesan Pencopet kepada Pacarnya, Potret Pembangunan Dalam Puisi, Sajak Potret Keluarga, Sajak Rajawali Sajak Seonggok Jagung, Sajak Seorang Tua tentang Bandung Lautan Api, State of Emergency, dan Surat Cinta.
Tarian Si Burung Merak kini hanyalah kenangan. Hadirnya yang bagaikan warna-warni cahaya itu kini menjadi bagian sejarah. Selamat jalan Si Burung Merak. Semoga damai di sisi-Nya….
sumber: tokohindonesia.com
wikipedia.com
Petani Juga Bisa Bikin Helikopter
If you can imagine it, you can achieve it. If you can dream it, you can become it. Agaknya kata-kata motivasi yang pernah diucapkan Wiliam Arthur Ward itu diterapkan benar dalam pikiran dan tindakan seorang petani asal China. Mimpi masa kanak-kanaknya untuk membuat helikopter pun terwujud.
Wu Zhongyuan (20) adalah petani yang hanya mengenyam pendidikan dasar. Meski demikian, pria asal Luoyang, Provinsi Henan ini mampu membuat helikopter. Demikian diberitakan ananova pada Selasa (4/8/2009).
Helikopter tersebut dibuat dalam waktu hampir tiga bulan. Wu mengatakan, dia mengingat-ingat pelajaran fisika yang diperolehnya saat masih duduk di sekolah menengah untuk membuat mesin. Dia mengklaim, mesin yang dibuatnya mampu terbang hingga ketinggian 800 meter.
“Saya tidak punya desain. Sumber pengetahuan yang relevan saya dapat dari surfing di internet dengan menggunakan telepon seluler,” ujarnya.
Baling-baling helikopter dibuat dari kayu pohon elm, sedangkan mesinnya berasal dari sepeda motor. Kerangka helikopter merupakan gabungan pipa baja. Demikian laporan Dahe Daily.
Wu yang tinggal di desa pegunungan mengatakan, “Saya punya mimpi sejak kecil, tidak perlu mendaki gunung lagi. Saya ingin pergi ke sekolah dengan mesin terbang milik sendiri.”
Sang Ayah, Wu Xizha, mengungkapkan, anaknya telah menghabiskan uang kurang dari £1,000 untuk mengembangkan helikopter yang akan diterbangkan perdana pada pekan ini. “Dia sangat menyukai mesin. Berkali-kali dia sering membongkar dan memasang kembali peralatan elektronik di rumah,” tambah sang ayah.
Wu Zhongyuan (20) adalah petani yang hanya mengenyam pendidikan dasar. Meski demikian, pria asal Luoyang, Provinsi Henan ini mampu membuat helikopter. Demikian diberitakan ananova pada Selasa (4/8/2009).
Helikopter tersebut dibuat dalam waktu hampir tiga bulan. Wu mengatakan, dia mengingat-ingat pelajaran fisika yang diperolehnya saat masih duduk di sekolah menengah untuk membuat mesin. Dia mengklaim, mesin yang dibuatnya mampu terbang hingga ketinggian 800 meter.
“Saya tidak punya desain. Sumber pengetahuan yang relevan saya dapat dari surfing di internet dengan menggunakan telepon seluler,” ujarnya.
Baling-baling helikopter dibuat dari kayu pohon elm, sedangkan mesinnya berasal dari sepeda motor. Kerangka helikopter merupakan gabungan pipa baja. Demikian laporan Dahe Daily.
Wu yang tinggal di desa pegunungan mengatakan, “Saya punya mimpi sejak kecil, tidak perlu mendaki gunung lagi. Saya ingin pergi ke sekolah dengan mesin terbang milik sendiri.”
Sang Ayah, Wu Xizha, mengungkapkan, anaknya telah menghabiskan uang kurang dari £1,000 untuk mengembangkan helikopter yang akan diterbangkan perdana pada pekan ini. “Dia sangat menyukai mesin. Berkali-kali dia sering membongkar dan memasang kembali peralatan elektronik di rumah,” tambah sang ayah.
Lagu Sepakbola Jerman Membuat Kesal Muslim
Lagu kebesaran yang dinyanyikan klub sepakbola Jerman FC Schalke 04 menuai protes Muslim. Sebab ada lirik lagu yang merujuk pada Nabi Muhammad. Demikian ditulis bbc.co.uk pada Rabu (5/8/2009).
Klub Gelsenkirchen yang bermain di lega utama Jerman, Bundesliga, telah meminta seorang yang mengerti benar tentang Islam untuk mempertimbangkan apakah lagu tersebut mengandung unsur penghinaan. Syair ketiga lagu tersebut berbunyi demikian: “Muhammad adalah nabi yang tidak mengerti tentang sepakbola.” “Tetapi dari semua warna dia pilih (Schalke) biru dan putih.”
Klub telah menerima ratusan e-mail dari Muslim yang marah pada bar-baru ini, sejak media Turki memberitakan perihal lagu tersebut. Polisi di Gelsenkirchen, wilayah industri Ruhr yang berada di German barat, mengatakan, mereka memperhatikan komplain yang dilontarkan Muslim dengan serius.
Sedangkan ketua Dewan Pusat Muslim Jerman, Aiman Mazyek, menegaskan, dewannya tidak akan menyerukan pelarangan terhadap lagu tersebut namun akan menanyakan penjelasan dari latar belakang lirik tersebut. Situs berita Jerman Deutsche Welle menyebutkan, lagu tersebut ditulis pada 1924.
Klub Gelsenkirchen yang bermain di lega utama Jerman, Bundesliga, telah meminta seorang yang mengerti benar tentang Islam untuk mempertimbangkan apakah lagu tersebut mengandung unsur penghinaan. Syair ketiga lagu tersebut berbunyi demikian: “Muhammad adalah nabi yang tidak mengerti tentang sepakbola.” “Tetapi dari semua warna dia pilih (Schalke) biru dan putih.”
Klub telah menerima ratusan e-mail dari Muslim yang marah pada bar-baru ini, sejak media Turki memberitakan perihal lagu tersebut. Polisi di Gelsenkirchen, wilayah industri Ruhr yang berada di German barat, mengatakan, mereka memperhatikan komplain yang dilontarkan Muslim dengan serius.
Sedangkan ketua Dewan Pusat Muslim Jerman, Aiman Mazyek, menegaskan, dewannya tidak akan menyerukan pelarangan terhadap lagu tersebut namun akan menanyakan penjelasan dari latar belakang lirik tersebut. Situs berita Jerman Deutsche Welle menyebutkan, lagu tersebut ditulis pada 1924.
Nekat! Pasutri Ngeseks di Gereja
Keinginan melakukan hubungan seks dengan cara tak biasa membuat sepasang suami istri (pasutri) nekat ngeseks di gereja. Hasrat membumbui kehidupan cinta dengan cara unik itu menggiring mereka ke pengadilan.
Tolu Akintepe (30) dan sang istri Bunmi (28) adalah pasangan dari Nigeria yang melakukan perbuatan nekat tersebut. Mereka dibawa ke pengadilan oleh pastor gereja Pantecostal di Ikeja, daerah pinggiran Lagos. Dihadapan hakim, pasangan tersebut menjelaskan, apa yang mereka lakukan hanyalah untuk memberi sensasi pada hubungan cinta mereka. Demikian diberitakan ananova, Kamis (6/8/2009).
Pastor Gbenga Akhiomu meminta mereka membayar £100 karena menodai altar. Dia juga meminta pasangan itu untuk membersihkan altar dan meminta pengampunan pada Tuhan.
Di hadapan hakim Ifeanyinwa Okenwa, Tolu dan Bunmi berkisah bahwa mereka telah menikah selama empat tahun. Lantas kehidupan percintaan mereka menjadi membosankan. “Istri saya selalu mengatakan dia ingin saya membumbui kehidupan seks kami dengan cara yang tidak biasa,” kata Tolu.
“Saya pikir akan menjadi sensasi jika kami melakukannya di gereja, dengan ada yang melihat kami dari atas. Saya rasa itu akan menjadi sedikit petualangan. Saya beri tahu istri saya, dan dia setuju.”
Hakim Ifeanyinwa Okenwa memperingatkan keduanya agar lebih memiliki rasa hormat kepada institusi keagamaan. Dia memerintahkan pasangan itu untuk membayar kompensasi sebesar £100. Mereka juga diharuskan kerja sukarela membersihkan gereja selama seminggu penuh.
Tolu Akintepe (30) dan sang istri Bunmi (28) adalah pasangan dari Nigeria yang melakukan perbuatan nekat tersebut. Mereka dibawa ke pengadilan oleh pastor gereja Pantecostal di Ikeja, daerah pinggiran Lagos. Dihadapan hakim, pasangan tersebut menjelaskan, apa yang mereka lakukan hanyalah untuk memberi sensasi pada hubungan cinta mereka. Demikian diberitakan ananova, Kamis (6/8/2009).
Pastor Gbenga Akhiomu meminta mereka membayar £100 karena menodai altar. Dia juga meminta pasangan itu untuk membersihkan altar dan meminta pengampunan pada Tuhan.
Di hadapan hakim Ifeanyinwa Okenwa, Tolu dan Bunmi berkisah bahwa mereka telah menikah selama empat tahun. Lantas kehidupan percintaan mereka menjadi membosankan. “Istri saya selalu mengatakan dia ingin saya membumbui kehidupan seks kami dengan cara yang tidak biasa,” kata Tolu.
“Saya pikir akan menjadi sensasi jika kami melakukannya di gereja, dengan ada yang melihat kami dari atas. Saya rasa itu akan menjadi sedikit petualangan. Saya beri tahu istri saya, dan dia setuju.”
Hakim Ifeanyinwa Okenwa memperingatkan keduanya agar lebih memiliki rasa hormat kepada institusi keagamaan. Dia memerintahkan pasangan itu untuk membayar kompensasi sebesar £100. Mereka juga diharuskan kerja sukarela membersihkan gereja selama seminggu penuh.
Cinta adalah Medan Perang
Di sana-sini tampak tentara memegang senapan. Kendaraan militer pun siaga. Suasana perang kental terasa. Namun di tengah-tengah medan perang itu seorang laki-laki dan perempuan berbaju pengantin justru asyik memadu kasih. Bagi keduanya, cinta adalah medan perang.
Tentu saja suasana itu bukan keadaan yang sebenarnya. Lokasi pernikahan didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai medan perang. Hal itu merupakan bagian dari pembuatan video pengantin. Demikian diberitakan ananova pada Kamis (6/8/2009).
Pasangan ini gemar sekali menonton film tentang perang. Mereka berdua pun sama-sama mengagumi hal-hal yang berbau militer. Tidak heran saat menikah, mereka mengekspresikan cinta mereka dalam suasana perang.
“Khususnya kami suka film perang,” kata sang suami Wang Mian, sembari mengatakan bahwa mereka juga suka permainan tentang perang.
“Perang itu untuk perdamaian, dan perang itu untuk rumah kami, orangtua kami, istri dan anak,” sambungnya.
Pasangan itu membujuk wedding organiser untuk mengenakan seragam militer dan mengambil gambar mereka dalam pose di medan perang. Pose awalnya, sambil memegang Wang menyelamatkan pengantin perempuan, Tian Houyu, dari tembakan. Adegan selanjutnya mereka berciuman dengan dikelilingi tentara yang memberi penghormatan dengan senjata.
“Saya sangat mencintai suami saya. Dia adalah teman perang seumur hidup dan juga rekan. Jika ada seseorang yang menantang akan menyerbu rumah kami, kami akan berjuang bersama hingga saat terakhir,” kata sang istri.
Tentu saja suasana itu bukan keadaan yang sebenarnya. Lokasi pernikahan didesain sedemikian rupa sehingga menyerupai medan perang. Hal itu merupakan bagian dari pembuatan video pengantin. Demikian diberitakan ananova pada Kamis (6/8/2009).
Pasangan ini gemar sekali menonton film tentang perang. Mereka berdua pun sama-sama mengagumi hal-hal yang berbau militer. Tidak heran saat menikah, mereka mengekspresikan cinta mereka dalam suasana perang.
“Khususnya kami suka film perang,” kata sang suami Wang Mian, sembari mengatakan bahwa mereka juga suka permainan tentang perang.
“Perang itu untuk perdamaian, dan perang itu untuk rumah kami, orangtua kami, istri dan anak,” sambungnya.
Pasangan itu membujuk wedding organiser untuk mengenakan seragam militer dan mengambil gambar mereka dalam pose di medan perang. Pose awalnya, sambil memegang Wang menyelamatkan pengantin perempuan, Tian Houyu, dari tembakan. Adegan selanjutnya mereka berciuman dengan dikelilingi tentara yang memberi penghormatan dengan senjata.
“Saya sangat mencintai suami saya. Dia adalah teman perang seumur hidup dan juga rekan. Jika ada seseorang yang menantang akan menyerbu rumah kami, kami akan berjuang bersama hingga saat terakhir,” kata sang istri.
Saatnya: Thesis!
Kamis pagi aku ke kampus buat daftar ulang. Di semester tiga ini, aku mengambil tiga mata kuliah yang tersisa, yang salah satunya adalah thesis.
Fiuh nggak kerasa — berangkat kuliah, pulang kuliah, tugas, les– sudah hampir 1,5 tahun aku kuliah di sini. Saat untuk pergi dan kembali ke ‘real world’ akan segera tiba. Saat tidak lagi disibukkan dengan kuis, tugas kuliah, ujian akhir, juga input mata kuliah. Sebagai gantinya, rutinitas yang sepertinya abadi, yang dulu pernah kujalani akan kembali ditapaki. Ketika ada masa di mana merasakan tubuh ini seperti mesin.
Karena sekolah lagi, aku tidak merasakan liputan pemilu. Bahkan aku juga tidak mengurus perpanjangan id wartawan istana. Ada banyak hal sebagai wartawan yang kulewatkan. Namun kupikir, aku perlu rehat sejenak. Meluruskan kaki, merasakan lagi dunia yang sudah empat tahun kutinggalkan.
Ketika aku kembali lagi ke ‘dunia nyata’-ku, aku harus kembali beradaptasi. Mungkin banyak hal terjadi ketika aku memilih menapaki jalan lain ini. Sehingga bila aku tidak menyesuaikan diri, maka aku akan menjadi pecundang, sosok yang kalah, dalam evolusi yang tak pernah mati. Bukankah yang mampu bertahan saja yang dapat terus melangsungkan hidupnya dengan lebih baik lagi.
Sekarang, aku tengah bersiap dengan thesisku. Satu topik sudah kupilih. Tidak jauh-jauh dari dunia yang hampir empat tahun aku geluti. Belum kuajukan sih judulnya, mungkin minggu depan aku baru akan menghadap dosen. Semoga semua lancar. Semoga semua berjalan seperti yang aku rencanakan. Semoga diberi kemudahan dan keberuntungan. Amin.
Bismillah, aku mulai Ya Allah….
Fiuh nggak kerasa — berangkat kuliah, pulang kuliah, tugas, les– sudah hampir 1,5 tahun aku kuliah di sini. Saat untuk pergi dan kembali ke ‘real world’ akan segera tiba. Saat tidak lagi disibukkan dengan kuis, tugas kuliah, ujian akhir, juga input mata kuliah. Sebagai gantinya, rutinitas yang sepertinya abadi, yang dulu pernah kujalani akan kembali ditapaki. Ketika ada masa di mana merasakan tubuh ini seperti mesin.
Karena sekolah lagi, aku tidak merasakan liputan pemilu. Bahkan aku juga tidak mengurus perpanjangan id wartawan istana. Ada banyak hal sebagai wartawan yang kulewatkan. Namun kupikir, aku perlu rehat sejenak. Meluruskan kaki, merasakan lagi dunia yang sudah empat tahun kutinggalkan.
Ketika aku kembali lagi ke ‘dunia nyata’-ku, aku harus kembali beradaptasi. Mungkin banyak hal terjadi ketika aku memilih menapaki jalan lain ini. Sehingga bila aku tidak menyesuaikan diri, maka aku akan menjadi pecundang, sosok yang kalah, dalam evolusi yang tak pernah mati. Bukankah yang mampu bertahan saja yang dapat terus melangsungkan hidupnya dengan lebih baik lagi.
Sekarang, aku tengah bersiap dengan thesisku. Satu topik sudah kupilih. Tidak jauh-jauh dari dunia yang hampir empat tahun aku geluti. Belum kuajukan sih judulnya, mungkin minggu depan aku baru akan menghadap dosen. Semoga semua lancar. Semoga semua berjalan seperti yang aku rencanakan. Semoga diberi kemudahan dan keberuntungan. Amin.
Bismillah, aku mulai Ya Allah….
Langganan:
Postingan (Atom)
